Pemandangan sawah dan gunung (dok. pinterest/opensea.io) |
Udara sejuk diiringi kicauan burung yang mengalun merdu, tentu sangat memanjakan hati dan telinga
yang mendengar. Menantikannya setiap pagi di sebuah pedesaan yang kecil tapi tidak terpencil, yang
penduduknya minoritas namun mengiringi perkembangan teknologi yang semakin luas. Tetap eksis
walaupun tinggal jauh dari pusat kota.
Sari, salah satu mahasiswa konoha mengatakan "Kota memang keren yang terkenal dengan gedung
pencakar langitnya, tapi bikin capek, polusi dimana-mana. Pulang ke desa adalah pilihan paling tepat
untuk melepas semua penat. Merasakan keindahan alami yang belum ada campur tangan para pejabat."
Baca Juga : Dear Perempuan Milenial, Ini 5 Cara Mudah Menjadi Independen!
Pandangan sisi kanan lautan lepas dan sebelah kiri persawahan. Yang tidak pernah bosan untuk
dipandang. Zona nyaman lagu milik Fourtwnty diputar, mengiringi perjalanan malam hari. Duduk
manis sambil menyeruput secangkir kopi dan pulpen disebelah tangan kiri. Untuk mengukir sebuah
perjalanan indah ini.
Udara sejuk asri menembus pori-pori wajah, tandanya tempat yang sangat dirindukan sudah dekat.
Hirup udara yang tidak berat terasa bersih masuk kedalam paru-paru yang insyaallah selalu sehat.
Baca Juga : Perempuan Tangguh
Tapak kaki mulai melangkah sejangkah demi sejangkah terasa alay rasanya jika harus menitihkan air
mata. Namun, rasa rindu ini sudah tidak bisa dibendung lagi dengan tipu daya.
Kulihat dia berdiri disana menyambut kedatanganku dengan senyum andalannya. Uluran tangan yang
selalu dinantikan ketika aku sedang tidak berdaya. Kata-kata lembut panutan keluarga, cantik melebihi
siapa pun. Ibu, yaa dia ibuku yang berdiri tidak jauh dari pandanganku yang siap untuk memelukku.
Oleh : Jecki